Jawa Tengah

 Wisata Borobudur adalah tour operator, travel-agent, biro perjalanan wisata yang berlokasi di Jogjakarta/Jogja menawarkan paket wisata Borobudur, wisata Jogjakarta dan obyek-obyek wisata yang berada di Jogjakarta/Jogja dan sekitarnya seperti candi Borobudur, Candi Prambanan, Kraton Jogja, Malioboro, Gunung Merapi, Dieng dan Pantai Parang Tritis untuk rombongan, instansi sekolah, kantor ataupun individu dari segala penjuru Indonesia yang ingin mengunjungi Yogyakarta. Layanan wisata yang kami sediakan adalah:

Wisata Borobudur menyediakan paket wisata reguler yang kami tawarkan adalah kombinasi kunjungan ke obyek-obyek wisata yang ada di Jogjakarta seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Keraton, ataupun apabila paket yang kami sediakan tidak sesuai dengan keinginan customer, kami akan menyusun paket wisata yang disusun sesuai dengan request customer, termasuk paket wisata minat khusus request seperti, cycling, rafting, tubing dan caving, team building, outing dan convention.

 Wisata Borobudur juga menyediakan ground handling tour service (tour guide, makan siang/malam, tiket masuk obyek wisata) untuk travel agency dari luar Jogjakarta.

 Wisata Borobudur juga menyediakan transport atau rent car yang hanya untuk kunjungan wisata di Jogjakarta untuk tour ke Candi Borobudur serta obyek-obyek wisata lainnya disekitar Jogjakarta dengan menggunakan mobil Avanza, Xenia, Innova, Suzuki APV, Pregio ataupun Mitsubishi L 300 dan bus besar 34 seats sampai 55 seats sesuai dengan kebutuhan dengan driver/sopir-sopir kami yang telah berpengalaman di bidang pariwisata. Selain itu kami menyedikan informasi dan reservasi hotel-hotel yang ada di Jogjakarta mulai hotel Melati sampai hotel berbintang yang ada di Jogjakarta sesuai dengan budged anda.

 MALIOBORO

Menyusuri Jalan Karangan Bunga dan Surga Cinderamata di Jantung Kota Jogja

Matahari bersinar terik saat ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan Malioboro. Mereka tidak hanya berdiri di trotoar namun meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Tawa yang membuncah, jerit klakson mobil, alunan gamelan kaset, hingga teriakan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan anak-anak berbaur menjadi satu. Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya rombongan kirab yang ditunggu pun muncul. Diawali oleh Bregada Prajurit Lombok Abang, iring-iringan kereta kencana mulai berjalan pelan. Kilatan blitz kamera dan gemuruh tepuk tangan menyambut saat pasangan pengantin lewat. Semua berdesakan ingin menyakasikan pasangan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara yang terus melambaikan tangan dan menebarkan senyum ramah.

Itulah pemandangan yang terlihat saat rombongan kirab pawiwahan ageng putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X lewat dari Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan. Ribuan orang berjejalan memenuhi Jalan Malioboro yang membentang dari utara ke selatan. Dalam bahasa Sansekerta, malioboro berarti jalan karangan bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1 km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka kirab dan perayaan tidak pernah berubah. Hingga saat ini Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.

Sebelum berubah menjadi jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.

Melihat Malioboro yang berkembang pesat menjadi denyut nadi perdagangan dan pusat belanja, seorang kawan berujar bahwa Malioboro merupakan baby talk dari “mari yok borong”. Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga. Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu “Yogyakarta” milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.

Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi “Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan”, kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.

Keterangan: Karnaval dan acara yang berlangsung di Kawasan Malioboro biasanya bersifat insidental dengan waktu pelaksanaan yang tidak menentu. Namun ada beberapa kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun seperti Jogja Java Carnival yang selalu dilaksanakan tiap bulan Oktober, Festival Kesenian Yogyakarta pada bulan Juni hingga Juli, serta Pekan Kebudayaan Tionghoa yang dilaksanakan berdekatan dengan perayaan tahun baru China (Imlek).

GUNUNG DIENG

Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Ketinggian rata-rata sekitar 2.000m di atas permukaan laut, suhu sejuk  dingin, sekitar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 8 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku.

Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo.

Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Sunda Kuna: “DI” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “HYANG” yang bermakna “Dewa”,  Dieng berarti daerah pegunungan tempat para Dewa dan Dewi bersemayam.

Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda, karena diperkirakan pada pra-medang sekitar tahun 600 Masehi daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

Kompleks Candi Arjuna, Dieng dan beberapa peninggalan budaya juga alamnya telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua Kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo.

Beberapa obyek wisata di Dieng:

Telaga:

  • Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung.
  • Telaga Pengilon
  • Telaga Merdada
  • Kawah:
  • Sikidang
  • Sileri
  • Candradimuka

Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa)

Kompleks candi-candi Hindu yang dibangtn pada abad ke-7, antara lain:

  • Candi Gatutkaca
  • Candi Bima
  • Candi Arjuna
  • Candi Semar
  • Candi Sembadra
  • Candi Srikandi
  • Candi Setyaki
  • Gangsiran Aswatama
  • Candi Dwarawati.

Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak diantara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat spiritual.

Sumur Jalatunda

Dieng Vulcanic Theater, teater untuk melihat film dokumenter (tentang kegunungapian di Dieng)

Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), di fasilitasi panggung terbuka di atap museum serta restoran.

Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air)

 

Museum Kereta Api, Ambarawa

Tempat pertama yang asyik untuk dikunjungi adalah Museum Kereta Api Ambarawa di Jl Stasiun Ambarawa No 1, Ambarawa. Awalnya, tempat ini bukanlah museum, melainkan salah satu stasiun kereta api yang terkenal. Di museum ini, Anda bisa melihat kereta api uap dengan nomor lokomotif B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslinge. Kereta api uap ini unik karena memiliki gerigi. Gerigi yang berada di bagian bawah kereta berfungsi sebagai pencengkram, antara kereta dan rel. Bahkan hanya tiga negara saja yang masih mempunyai kereta api bergerigi ini, yaitu Indonesia, India, dan Swiss.

Selain itu, pengunjung juga bisa mencoba kereta api bergerigi tersebut. Tarif yang dikenakan yaitu Rp 50.000 per orang untuk perjalanan pergi dan pulang secara reguler. Namun, jika tidak sabar menunggu perjalanan reguler, penumpang juga bisa menyewa secara khusus dengan tarif Rp 3.250.000 hingga Rp 5.250.000. Selama perjalanan, Anda akan ditemani oleh pemandangan indah sepanjang perjalanan yang berupa panorama Gunung Unggaran dan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi serta hamparan Rawa Pening di bagian bawahnya.

 

Umbul Sidomukti, Semarang

Nah, ini dia tempat wisata di Jawa Tengah yang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga, Umbul Sidomukti. Kawasan wisata ini bisa dibilang memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Beberapa fasilitas seru yang ditawarkan adalah taman renang alam, outbond training, permainan pemicu adrenalin, camping ground dan vila.

Tempat yang paling ramai dikunjungi adalah taman renang alam. Yang membuat kolam renang ini menarik adalah lokasinya yang cukup tinggi, yaitu di ketinggian 1.200 mdpl. Selain itu, panorama yang disuguhkan di sekitar kolam juga sangat memesona. Jika tidak ingin berenang, olahraga pemicu adrenalin seperti flying fox atau marine brigde bisa menjadi pilihan. Ingin menginap? Tenang saja, tempat wisata yang terletak di Desa Sidomukti, Semarang ini juga menyediakan pondok penginapan. Asyik kan?

Desa Wisata Candirejo, Magelang

Ingin liburan dengan suasana khas pedesaan? Desa Wisata Candirejo patut dicoba. Di sini, para wisatawan diajak mempelajari kehidupan tradisional desa dengan menginap langsung di rumah warga. Dijamin seru!

Setiap turis yang datang, baik domestik maupun mancanegara bisa menginap di pondokan yang telah disediakan. Anda pun bisa berinteraksi langsung dengan penduduknya. Berkeliling desa adalah hal yang tidak boleh dilewatkan saat berada di desa wisata ini. Saat berkeliling nanti, pengunjung akan disuguhi dengan keunikan tradisi dan budaya masyarakat setempat, kesenian dan kerajinan rakyat, serta metode sistem pertanian tradisional. Eits, jangan lupa membeli hasil kerajinan bambu penduduk Candirejo untuk oleh-oleh, ya!

Lawang Sewu, Semarang

Lawang Sewu, bangunan indah bekas peninggalan kolonial Belanda tersebut telah menjadi ikon Kota Semarang. Letaknya di tengah kota, tepatnya di daerah Simpang Lima yang terkenal. Sejarahnya, arsitekturnya dan keindahannya telah membuat bangunan ini sebagai objek wisata favorit di Semarang.

Lawang Sewu memiliki arti seribu pintu. Julukan tersebut lahir dari masyarakat karena banyaknya pintu dan jendela yang berukuran besar. Keindahan pintu dan jendela tersebutlah yang membuat Lawang Sewu terlihat gagah. Tiket masuk ke Lawang Sewu sebesar Rp 10.000 dan pada saat memasuki Lawang Sewu, Anda akan disambut oleh kaca patri yang sangat besar. Lawang Seu terdiri dari dua menara dan dua tingkat lantai. Menara berfungsi sebagai tempat penampungan air, yang akan dialirkan ke ruang bawah tanah. Khusus ruang bawah tanah, ada kisahnya tersendiri. Dulu tempat ini dijadikan sebagai penjara tahanan Belanda. Kadang, ada beberapa pemandu lokal yang menawarkan wisata malam di ruangan bawah tanah. Jika tidak punya nyali, jangan sekali-sekali mencoba.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.